Natal, Bukti Ilmiah Umat Kristen Menyembah Dewa Matahari

Menurut catatan sejarah, sebelum nabi Isa (Yesus) lahir, masyarakat Medeterania memiliki kepercayaan yang sudah mendarah daging menyembah Dewa Matahari. Menurut keyakinan mereka, dewa ingin menyelamatkan dan menebus dosa manusia dengan berinkarnasi menjadi manusia anak dewa. Anak dewa ini lahir di hari Minggu (Sunday; sun=matahari; day=hari) tanggal 25 Desember. Di Persia, anak dewa matahari ini disebut Mithra, di Syiria dinamai Tammuz, di Yunani bernama Dyonisus, di Mesir disebut Osiris, dan lain-lain.

Hingga Saat ini, tanggal 25 Desember diyakini oleh Kaum Kristen sebagai hari kelahiran Yesus (hari Natal/kelahiran). Secara ilmiah, sebenarnya tahun dan tanggal kelahiran Yesus tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun, Tanggal 25 Desember bukanlah tanggal kelahiran Yesus, tetapi tanggal kelahiran dewa matahari. Demikian juga tahun kelahiran Yesus tidak tepat pada tahun pertama dari tahun Masehi.

Drs. M. E. Duyverman menulis sebagai berikut:

“Sangat mungkin kelahirannya jatuh pada tahun 6 atau 7 sebelum Masehi.”

Ds. B. J. boland menulis sebagai berikut:

“Tahun kelahiran Yesus tidak dapat ditentukan pasti; mungkin sekali antara 8 dan 6 sebelum Tarikh Masehi. Tanggal yang tepatpun sama sekali tidak diketahui. Tanggal yang lazim, yakni 25 Desember, hingga kinipun tidak dapat dipastikan kebenarannya (mungkin sekali tanggal itu diterima Kristen). Sebenarnya ketidak pastian itu juga tidak mengherankan. Sebab dalam Gereja Kristen zaman dahulu tanggal dan tahun kelahiran Yesus itu tidak dianggap penting. Hari raya yang terbesar ialah Paskah, bukan Natal! Hari Natal baru dirayakan di jemaat roma sejak tahun 354 (mungkin juga sejak tahun 335), di Konstantinopel sejak tahun 376, di Antiochia sejak tahun 388.”

Prof. dr. I. H. Enklaar menulis sebagai berikut:

“Masa raya kelahiran (hari Natal) pada tanggal 25 Desember berasal dari Roma pada abad ke IV; masa raya ini menjadi pengganti pesta kafir, yang dirayakan pada pertengahan musim dingin, karena pada saat itu matahari mulai bersinar kian hari kian lama dan panas lagi.”

Buku Mata Aliran Kekristenan juga menulis sebagai berikut:

“Dean Farar dalam buku tulisannya yang beralamat “Riwayat Perjalanan Yesus” sudah menerangkan dengan pasti bahwa tidak ada bukti yang nyata yang membenarkan hari lahir Yesus tanggal 25 Desember. Bibel tidak mengatakan apa–apa akan hal itu, kecuali sedikit keterangan, yaitu: “Maka dalam jajahan negeri itu (Betleham; peny.) juga adalah beberapa kawan–kawan kambingnya pada malam (Injil Kitab Lukas 2: 8. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru).”

Kalau pada waktu itu (tanggal 25 Desember) Yesus dilahirkan, yaitu pada suatu malam ketika di padang terdapat beberapa orang gembala dengan kambingnya yang tinggal di situ pada waktu malam, maka tanggal 25 Desember itu susahlah secara akal sehat akan diterima sebagai hari kelahiran Yesus. Sebab dalam bulan Desember tanggal 25 itu di tanah Judea musim hujan (salju) yang teramat hebat sehingga tiadalah seorang gembalapun dapat tinggal di padang di Betlehem dengan kambingnya pada waktu malam (lebih–lebih seorang perempuan yang baru habis melahirkan dan bayinya yang baru lahir itu yang menurut dogma umat Kristen adalah orang yang sangat miskin dan ketika itu sama sekali tidak membawa perbekalan atau persiapan untuk hidup sekaligus melahirkan pada keadaan tersebut karena miskinnya. Menurut dogma, mereka tinggal di kandang kambing yang terbuka dan bayi hanya tertutup kain yang tipis yang hanya mungkin dilakukan di musim panas).

Menurut kata tuan Usener, mula–mula orang merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari (Driekoningen). Akhirnya perayaan itu ketika tahun 353 Masehi diganti oleh Paus Liberius dijatuhkan pada tanggal 25 Desember.

Akan tetapi sebelum abad yang ke empat tahun Masehi tidak ada bekas tanda–tanda orang merayakan hari kelahiran Yesus. Memang sebelum tahun 534 Masehi “Kerestmis (Chrismast)” dan “Driekoningen” tidak termasuk bilangan hari besar yang dirayakan.

Gereja-gereja Khatolik sampai pada sekarang ini merayakan Chrismast pada tanggal 7 Januari, tidak pada 25 Desember sebagai mana Gereja Kristen yang lain–lain. Sebetulnya baru ketika tahun 530 Masehi orang menetapkan hari kelahiran Yesus. Pada waktu itu ditetapkan hari, bulan dan tahun kelahiran Yesus. Pekerjaan itu dilakukan oleh pendeta bangsa Scythian bernama Dionysius Exiguss; ia juga seorang ahli nujum. Ia yang menentukan hari bulan dan tanggal yang sekarang dipakai dalam dunia Kristen. Apa sebabnya hari kelahiran Yesus ditetapkan pada tanggal 25 Desember satu atau dua hari maju mundur dari hari itu, ialah hari yang dianggap sebagai hari kelahiran beberapa macam dewa–matahari.

Menurut almanak Yulius hari itu hari lahirnya matahari, sang Mithra, seperti yang sudah kami terangkan, dilahirkan pada hari itu juga. Osiris, dewa orang Mesir menurut kata Plitarch dilahirkan pada 27 Desember. Horus, dewa yang lain lagi, dilahirkan pada 28 Desember. Dan Apollo dilahirkan pada hari itu juga. Nama–nama yang tersebut di atas itu semua nama dewa matahari.

Dr. J. L. Ch. Abinene menulis dalam buku “Ibadah Jemaat dalam abad–abad pertama” halaman 63 – 64 sebagai berikut:

d. Hari–hari Natal ini lama sekali tidak dirayakan oleh Gereja. Sebab, karena jemaat pertama tidak suka merayakan hari ulang tahun. Itu adalah kebiasaan kafir. Dalam seluruh Injil Perjanjian Baru tidak pernah kita membaca orang–orang Kristen yang merayakan hari ulang tahun mereka. Hanya orang–orang kafir saja, seperti Herodes (Injil Kitab Matius 14: 6. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru), yang berbuat demikian. Itulah yang antara lain menyebabkan bahwa sampai sekarang kita tidak tahu dengan pasti saat (hari dan bulan) manakah tuhan Yesus dilahirkan “ketika Kirenius menjadi wakil pemerintahan di Syiria (Injil Kitaab Lukas 2: 2. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru).

Sungguhpun demikian lama kelamaan jemaat merayakan juga hari raya Natal, mula–mula tanggal 6 Januari, di Mesir (sekitar abad ketiga), di Galia (360 M) dan di Spanyol (380 M). Kemudian jemaat di kota Rumawi menyusul (akhir abad ke empat), tetapi pada tanggal yang lain: 25 Desember.

Dari keterangan di atas ternyata bahwa tanggal 25 Desember adalah pada mulanya hari perayaan orang kafir menyambut terbitnya matahari, bukan tanggal kelahiran Yesus, tetapi kemudian telah dirayakan sebagai tanggal kelahiran Yesus. Patut menjadi perhatian pula, bahwa penanggalan Masehi sebenarnya juga merupakan perhitungan (peringatan hari) kelahiran Yesus, jadi tanggal 1 Januari tahun 0 dianggap dengan hari kelahiran Yesus, hal ini selain bisa dilihat dari beberapa literatur, juga bisa diambil dari lambang–lambang yang berlaku padanya seperti tulisan AD (Anno Domino/tahun tuhan) atau TM (Tarich Masehi/Penanggalan Masehi/Penanggalan sejak Kristen turun/Penanggalan sejak Yesus lahir) dibelakang angka tahun untuk menyatakan waktu sejak tanggal 1 Januari tahun 0 hingga kini, dan tulisan BC (Before Christ/sebelum kelahiran Christus/sebelum kelahiran Yesus/sebelum turun Kristen) di belakang angka tahun untuk menyatakan waktu sejak tanggal 31 Desember sebelum tahun 0 hingga jauh sebelumnya. Jadi di sini ada kontradiksi yang sangat berat yang sama sekali tidak bisa terselesaikan (minimal hingga paper ini ditulis) tentang kelahiran Yesus (tuhan anak dari agama Kristen), yaitu antara tanggal 25 Desember dengan maju atau mundur sekitar 8 tahun dari tahun 0 yang dirayakan oleh umat Kristen kebanyakan, atau tanggal 7 Januari sekitar 8 tahun maju atau mundur dari tahun 0 yang dirayakan oleh umat Kristen golongan Khatolik, atau tanggal 1 Januari tahun 0 seperti penanggalan Masehi yang berlaku hingga kini, manakah yang benar diantara ketiganya Wallahu alam, apalagi harinya, jamnya, waktunya, situasinya, peristiwanya, dll. Mereka saja hingga kini sama sekali tidak tahu sehingga ketiganya dirayakan sekaligus oleh mereka, apalagi kita umat Islam yang nota bene sangat berbeda aqidah dan ajarannya.

Sungguh tidak masuk akal jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud.”

Oleh karena itu, tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:

“It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain.” (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).

“Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama.”

Adam Clarke melanjutkan:

“During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As?the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact. See the quotation from the Talmudists in Lightfoot.”

“Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab “Ringan Kaki”.

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Bahkan tidak ada satu ayat Alkitab pun yang memberitakan yesus dilahirkan tanggal berapa dan bulan apa. Maka hal ini seharusnya sudah cukup bagi umat Kristen untuk berpikir bahwa peringatan natal itu tidak ada dasarnya. Sebagai pengikut Yesus yang setia dan manusia yang berakal, seharusnya umat Kristen mengingkari perayaan tersebut, dan memberi pemahaman kepada umat Kristen lainnya bahwa perayaan natal tidak ada dalilnya. Selain itu, apakah yesus pernah menyuruh merayakan hari kelahirannya ? maka belajarlah untuk beragama dan beramal diatas dalil/ilmu, jangan hanya karena ikut-ikutan dan jangan mengikuti orang-orang yang bodoh lagi tersesat. Agama adalah sesuatu tentang pahala dan dosa, surga dan neraka, tentulah segala aspek amal dalam agama harus ada dasar hukumnya, yaitu hukum dari Tuhan yang Maha Mengetahui, yang membuat agama tersebut.

Sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, bisa diambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.

This entry was posted in Edisi Bahasa Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s