Mass-Media Is The Liars : Knowing Islam More Near

THERE IS NOT A COERCION / VIOLENCE TO CONVERT TO ISLAM.
Though the religion of Islam is a most true religion, and a most blessed by Allah The God Almighty, as has been asserted in the Koran: (Surah Ali Imran: 19), (Surah Ali Imran: 85) . However, Islam banned Muslims to compel the person who embraced other religions to convert to Islam. Islam so respect tolerance religion embodied with liberty every one to trust and running his religion respectively.
Allah The God Almighty said in the Koran: “There is not a coercion in religion” (Surah Al-Baqoroh: 256). Therefore when the Prophet SAW come to Medina and making the agreement with residents of the city or more commonly known with the Charter of Medina. One of the points, which become deal in the charter is freedom of religion for each individual. Never the Prophet Muhammad force his neighbors the religion Judaism at the time to convert to Islam. In fact, happened he ordered his companions to respect their rights moreover as a neighbors. In fact in conditions of war. Islam forbid the Muslims to force they are so like converted to Islam. To those who become the enemy, Islam gave three options. Three it is always he said to convey to the commander who will forward to the field of Jihad. He bequeath to them:
First, take your enemy to convert to Islam, if they accept then do not you fight them. But, if they refuse to convert to Islam, ask to they to pay jizya as a guarantee for their safety. If they like accept it is then resist yourself, and do not fight them. But, if they refuse to pay jizya, then fight them. Therefore, when in the case the conquest of the city of al-Quds, at the time of challiph Umar bin Khotob, he said do not commanded his soldiers to drive the christian of the country, in fact challiph giving freedom to them to run the teachings of their religion.

JESUS IN THE VIEW OF ISLAM: IS NOT GOD, BUT A PROPHET IN ADDITION IBRAHIM / ABRAHAM, MUSA / MOSES, MUHAMMAD, AND OTHERS.
View of Islam about Jesus is different with Christianity. The main difference is located in the issue the divinity of Jesus which is in the manuscripts of the Koran, and Arabic is called Isa al-Masih. Muslims believe Jesus Christ is a noble servant of God, and a prophet, and also an apostle who was sent specifically for the people of Israel. In Islam, he (Jesus / Isa al-Masih), including one of the prophets, which include apostles Ulul Azmi, namely the patience apostle and steadfast in preach the doctrine of God. Name Jesus (without the pronoun) is mentioned as many as twenty-eight times in the Koran.
Beberapa catatan penting mengenai Yesus dalam Al-Qur’an dan Hadist:
•    Silsilah Isa tersambung dari Ibrahim melalui putranya Ishak, dimana Nabi Muhammad juga berasal dari keturunan saudaranya Ismail.
•    Yesus adalah salah satu nabi yang tergolong dalam ulul azmi, yakni nabi dan rasul yang memiliki kedudukan tinggi/istimewa bersama denganMuhammad, Ibrahim, Musa dan Nuh.
•    Yesus hanya diutus khusus untuk kaum Bani Israil.
•    Yesus bukanlah Tuhan maupun anak Tuhan, melainkan salah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi nabi dan rasul, sebagaimana juga setiap nabi lain yang diutus pada masing-masing kaum.
•    Kelahiran Yesus terjadi dengan ajaib, tanpa ayah biologis, atas kekuasaan Tuhan. Ibunya yang bernama Maryam, adalah dari golongan mereka yang suci dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
•    Yesus memiliki beberapa keajaiban atas kekuasaan Tuhan. Di samping kelahirannya, Ia mampu berbicara saat berumur hanya beberapa hari, Ia berbicara dan membela Ibunya dari tuduhan perzinaan. Dalam Qur’an juga diceritakan saat Ia menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan kebutaan dan lepra.
•    Yesus menerima wahyu dari Tuhan yakni Injil, namun versi yang dimiliki oleh umat Kristiani saat ini, menurut umat Islam telah diubah dari versi aslinya.
•    Yesus tidak dibunuh maupun disalib, Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan dia, sedangkan Isa sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib. Sementara yang disalib oleh tentara Roma bukan Isa melainkan salah seorang pengikutnya yaitu Yudas Iskariot.
•    Yesus masih hidup dan berada di surga, suatu hari Ia akan datang kembali ke bumi untuk melawan Dajjal (atau Antikristus dalam agama kristen) dan merupakan salah satu tanda-tanda dekatnya akhir zaman.
•    Yesus bukan penebus dosa manusia, Islam menolak konsep dosa turunan dan menganut konsep bahwa setiap manusia bertanggung jawab dan hanya akan diadili atas perbuatannya sendiri.
Ajaran Islam sangat jauh dari apa yang diberitakan media. Di media disebutkan bahwa Muslim dekat dengan teroris, namun setelah kenal lebih dekat, Islam jauh dari semua tudingan itu. Di semua agama ada umatnya yang jahat, namun bukan berarti agama itu jahat.

THE TEACHING OF ISLAM IS NOT CONTRADICTORY BY THE MODERN SCIENCE.
Islam merupakan kesatuan ajaran yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dikerjakan dan apa yang dilarang, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dalam hal ini aspek mengetahui menjadi sangat penting sehingga antara Islam dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipisahkan.
Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam memandang ilmu pengetahuan sebagai cara pandang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti. Islam menempuh jalan yang paling lurus dalam keseimbangan antara kepribadian perseorangan dan kepribadian masyarakat, serta mempersatukannya dengan tali hubungan yang kuat.
Bagian pertama ketika seorang masuk agama Islam dari kesaksian iman Islam adalah ucapan, “Laa ilaha illallah” (Tak ada tuhan selain Allah), merupakan sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Kalimat ini adalah pernyataan yang secara popular dikenal dalam Islam sebagai prinsip utama/ prinsip tauhid atau keesaan tuhan.
Orang Islam memandang berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti sains, ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora sebagai beragam bukti yang menunjukkan kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam ini.
Benturan dan ketidakcocokan antara Islam dan ilmu pengetahuan dipandang dari sisi manapun tidak akan pernah ada. Karena sesungguhnya kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan Keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religious, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan Keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan Keesaan Tuhan berarti  meneguhkan bahwa kebenaran Tuhan Allah adalah satu dalam EsensiNya, dalam Nama-nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan dalam perbuatam-Nya.
Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Seagai sebuah sumber ilmu pengetahuan, agama Islam bersifat empatik ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos teriri atas berbagai berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisikanya yang dalam agama disebut Tuhan.
Semangat ilmiah para ilmuan dan sarjana muslim pada kenyataanya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan bahwa, secara religius dan historis, asal-usul dan perkembanga semangat ilmiah dalam Islam berbeda dari asal usul dan perkembangan sains di Barat. Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan sumber religius semangat ilmiyah dalam Islam ini daripada fakta bahwa semangat ini pertama kali terlihat dalam ilmu-ilmu agama.
Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ketiga Hijriyah atau abad ke sembilan masehi. Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiyah dan ketrangka berfikir ilmiyah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektifitas, penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri-ciri ilmuan muslim yang sangat luar biasa.
Kecintaan ummat muslim terlebih para ulama’dan ilmuan di zamanya pada definisi-definisi dan analitis konseptual atau semantik dengan penekanan yang besar pada kejelasan dan ketepatan logis, juga sangat nyata dalam pemikiran hukum seorang Muslim maupun dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan studi atas berbagai aspek al-Qur’an, seperti limu tafsir.Dalam Islam, ilmu pengetahuan logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Bahkan para ahli tata bahasa, yang pada awalnya menentang diperkenalkanya logika Aristoteles (Mantiq) oleh para filosof muslim seperti al-Farabi, bersikap demikian karena keyakinan bahwa logika-teologis-yuridis seperti Stoics, yang dikenal sebagai adab al-jadal atau seni berdebat sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan logika mereka.

This entry was posted in English Edition. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s